08
BERPERAHU DI TENGAN HUJAN
Karya Mini
Ariska Febrianty
Di
suatu pagi, aku terbangun karena hujan yang cukup deras, tidak seperti biasanya
aku bangun cepat di hari libur. Setelah aku bangun, aku coba mengusap tiap embun
yang ada di jendela kamarku yang begitu dingin ku rasa yang bisa membekukan
badan siapun yang merasakannya, dan keluar melihat arus air yang mengalir
dengan gemercik air yang begitu deras, dan air sungaipun mulaipun naik sudah
hampir kejalan dan menutupi sebagian dari tiang jembatan.
Seorang laki-laki yang sudah tua naik di
sebuah perahu yang melintasi sungai yang ditemani oleh anak yang kira-kira
berumur 12 tahun, yang ternyata dia anak teman kelas SDku.
Aku
langsung berteriak memanggil temanku,
“Rais....!”
dengan suara seperti orang yang kedinginan.
Temanku
pun langsung menjawab
“Iya,
ada apa kamu memanggilku...?” sambil melambaikan tangan kirinya dengan tangan
kanan memengan sebuah sampan yang kecil.
“Tidak
apa-apa, aku hanya ingin bertanya kamu dari mana berperahu...?”
“Aku
datang melihat sawahku yang tergenang air, ternyata semua sawah sudah tidak
nampak lagi, karena tingginya air”.
Satu jam kemudian, tanpa kusadari aku lupa
untuk mengerjakan tugas menggambar yang diberikan waktu sebelum libur, untuk
hari senin besok, tanpa basa-basi aku segera pergi menyelesaikan gambaran yang
belum selesai. Sambil menggambar aku memikirkan sebuah rencana untuk pergi
bersama teman-temanku menaiki perahu.
“Duaaarrrr”
kakakku yang kedua mengagetkaku yang tengah melamun memikirkan rencana
tersebut.
“Haaa..!”
dengan suara kaget
“Kenapa
kamu mengagetkanku...?”
“Aku
hanya melihatmu melamun dengan muka kebingungan, memang kamu kenapa??”
“Aku
tidak kenapa-napa, aku ingin mengajak kakak untuk berperahu, apakah kakak mau??
“Kita
lihat situasi saja, kalau tidak hujan kita kan pergi, yang penting kamu cepat
menyelesaian tugasmu”
“Iya”
jawabku sambil bersemangat.
Dengan semangat aku menyelesaian gambar
yang ku buat, sambil memoles-moles dengan krayon hijau untuk gambar gunung yang
sudah hampir selesai ku kerjakan.
Entah
mengapa di saat aku menggambar, aku memikirkan kejadian kemarin yang kualami
disekolah, disaat aku pergi ke Perpustakaan untuk meminjam buku, seorang lelaki
yang misterius menyeggolku, sehingga buku yang ku pegangpun jatuh, dia pun
langsung sigap menolongku dan setelah itu diapun langsung pergi. Keesokan
harinya aku tidak pernah lagi bertemu dengan lelaki tersebut, siapakah dia?
“Ha..
sudahlah, ku rasa kejadian itu tidak penting untuk ku pikirkan” Ucapku dalam
hati.
Setelah gambaranku selesai akupun langsung
menemui kakakku untuk mengajaknya berperahu, ternyata dia sedang tertidur di
depan televisi. Dengan sabar aku menunggunya sampai dia bangun, aku rela menunggunya
sampai dia bangun, karena aku sangat antusias dan sangat ingin berperahu.
Sekitar sejam aku menunggunya, diapun terbangun, tanpa basi-basi lagi aku
langsung mengajaknya untuk pergi. Dia pun menyetujuinya karena tidak turun
hujan, kami pun pergi, dengan bersemangay aku menaiki perahu kakekku,
sampai-sampai aku hampir terjatuh karena terlalu bersemangat. Untungnya seorang
lelaki melambaikan tangannya dan menolongku berdiri, yang ternyata Pamanku.
“hahahaha...!”
Semua
yang ada ditempat itupun menertawaiku. Aku hanya bisa menunduk karena malu, dan
kami pun pergi.
“Yeeeeyyy...”
ucapku sakin senangnya.
Perjalan kami sangat menyenangkan dan
berjalan dengan sesuai keinginan, Kemudian aku terkaget karena kakakku
menyiramku dengan air hujan yang dingin, syukurlah aku tidak terlalu basah
kuyup, tapi di tengah-tengah perjalanan hujan langsung turun, sayangnya hujan
turun saat perahu kami berada di tengah-tengah perairan, sehingga kami tidak
bisa berteduh, ku kira itu sesuatu yang menyebalkan, ternyata malah menjadi
sangat seru dan menyenangkan, kami pun terus bercanda gurau di atas perahu yang
kami tumpagi, dan tanpa disadari perahu kami pun tambah menjauh dari rumah penduduk
yang berada pada tempat itu.
“Ha..?
kita ada dimana?” tanya kakakku kepada pamanku.
Aku
hanya bisa kebingungan.
“A..a..aku
juga tidak tahu” jawab Pamanku terbata-bata.
Jawaban
Pamanku hanya menambah kebingunganku.
Sunguh kejadian ini tidak pernah terlintas
dipikiranku, tapi apa yang bisa kulakukan, aku hanya bisa termenung sambil,
bermain-main air yang ada di samping perahu kami.
“Menyebalkan”
Ucapku dalam hati.
Setelah
lama kemudian....
“Ha..?
apa itu ?” tanya kakakku.
“Itu
rumah, iya itu rumah penduduk di tempat kami menaiki perahu”, yaitu tempat
tinggal nenekku.
“Betul”
jawabku sangat senang.
Kamipun
langsung memutar perahu, dan menuju tempat di mana kami naik.
Akhirnya
kami pun pulang dengan badan yang basah kuyup dan sangat kedinginan, tapi
dingin tidak terasa karena pucat karena mengira perahu yang ditumpangi
tersesat. Padahal sebenarnya aku masih ingin berlama-lama berperahu, tapi
kejadian tadi membuat kami panik dan memutuskan untuk mencari jalan untuk
segera pulang ke rumah.
“Heeemmm..”
dengan suara yang kecewa.
“Kamu
kenapa? Apakah kamu sudah kapok untuk berperahu, karena kejadian tadi..?” tanya
pamanku yang langsung menghampiriku.
“Ha?
Tidak..” jawabku dengan kanget karena pamanku bertanya seperti itu.
“Terus
mengapa mukamu cemberut seperti itu ?” kembali pamanku bertanya.
“Sebenarnya
....”
“Iya
sebenarnya kenapa?” kembali pamanku bertanya dengan nada ingin tahu.
“Aku
masih berperahu..! jawabku dengan suara yang ingin meneteskan air mata.
“Iya,
kita akan berperahu jika tahun depan kamu kesini lagi” Jawab pamanku memberi
semangat.
“Iya,
aku pasti akan kesini lagi” jawabku kembali.
Setelah lama bercakap diruang tamu,
nenekpun mengajak kami untuk makan siang bersama. Moment yang sangat ku tunggu
dimana semua keluarga besar nenekku berkumpul di satu ruangan, yaitu ruang
makan yang mungil, tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar dengan
dinding yang dihiasi foto-foto keluarga besar nenekku. Disaat kami makan,
tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu,
“Tok...tok..tok”
nada pintu yang berbunyi begitu keras.
“Iya,
tunggu sebentar” jawab nenekku dari dalam rumah.
Akupun
langsung pergi membuka pintu,
“Eehhh,
ternyata Ayah, Ayo masuk Yah” Panggilku.
Ayahku
pun masuk ke ruang makan, kemudian nenek juga mengajak Ayah untuk makan bersama.
“Untuk
apa kamu kesini...?” tanya nenek kepada Ayahku.
Ternyata Ayah ingin mengajakku untuk
Pulang, karena besok sudah kembali masuk sekolah. Sebenarnya aku ingin
berlama-lama disini,
“Tapi
sayangnya besok sudah mulai masuk sekolah” ucapku dengan nada lesu.
Sebelum
aku pulang, nenek mengajak kami semua untuk sholat dhuhur berjamaah. Kami
langsung pergi untuk mengambil air wudhu.
Sesudah sholat akupun berdoa “Ya Allah
sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disini, Ku Mohon kepadamu berikanlah
Hamba kesempatan untuk kesini tahun depan, Saya senang sekali disini, tempat
istirahat yang begitu damai dan tenang, Jaga nenekku agar jika tahun depan aku
kembali aku masih bisa melihat senyumnya dan jaga pula semua keluarga hamba
yang lainnya, Amin...!” Sambil meneteskan air mata yang tak sengaja jatuh.
Aku, kakakku dan ayahpun bersiap-siap untuk
pulang, kami pun meminta izin kepada nenek dan semua keluarga yang ada disana.
“Daaaaa....!”
Ucap kami serempak.
“Aku
akan kesini lagi nanti, tunggu aku yah nekk...!” Ucapku berteriak.
Nenekpun
tersenyum mendengar ucapanku.
Sungguh
pengalamanku kali ini sangat mengesankan dari naik perahu sampai makan bersama
dirumah nenek.
Nanti
jika sampai dirumah aku pasti akan menulis cerita menyenangkan ini di buku
harianku.
JJJ
TERIMA KASIH
_THE
END_



















