Minggu, 06 Oktober 2013

pengalaman tak terlupakan


08
 BERPERAHU DI TENGAN HUJAN
                               Karya Mini Ariska Febrianty

     Di suatu pagi, aku terbangun karena hujan yang cukup deras, tidak seperti biasanya aku bangun cepat di hari libur. Setelah aku bangun, aku coba mengusap tiap embun yang ada di jendela kamarku yang begitu dingin ku rasa yang bisa membekukan badan siapun yang merasakannya, dan keluar melihat arus air yang mengalir dengan gemercik air yang begitu deras, dan air sungaipun mulaipun naik sudah hampir kejalan dan menutupi sebagian dari tiang jembatan.
     Seorang laki-laki yang sudah tua naik di sebuah perahu yang melintasi sungai yang ditemani oleh anak yang kira-kira berumur 12 tahun, yang ternyata dia anak teman kelas SDku.
Aku langsung berteriak memanggil temanku,
“Rais....!” dengan suara seperti orang yang kedinginan.
Temanku pun langsung menjawab
“Iya, ada apa kamu memanggilku...?” sambil melambaikan tangan kirinya dengan tangan kanan memengan sebuah sampan yang kecil.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya kamu dari mana berperahu...?”
“Aku datang melihat sawahku yang tergenang air, ternyata semua sawah sudah tidak nampak lagi, karena tingginya air”.
     Satu jam kemudian, tanpa kusadari aku lupa untuk mengerjakan tugas menggambar yang diberikan waktu sebelum libur, untuk hari senin besok, tanpa basa-basi aku segera pergi menyelesaikan gambaran yang belum selesai. Sambil menggambar aku memikirkan sebuah rencana untuk pergi bersama teman-temanku menaiki perahu.
“Duaaarrrr” kakakku yang kedua mengagetkaku yang tengah melamun memikirkan rencana tersebut.
“Haaa..!” dengan suara kaget
“Kenapa kamu mengagetkanku...?”
“Aku hanya melihatmu melamun dengan muka kebingungan, memang kamu kenapa??”
“Aku tidak kenapa-napa, aku ingin mengajak kakak untuk berperahu, apakah kakak mau??
“Kita lihat situasi saja, kalau tidak hujan kita kan pergi, yang penting kamu cepat menyelesaian tugasmu”
“Iya” jawabku sambil bersemangat.
     Dengan semangat aku menyelesaian gambar yang ku buat, sambil memoles-moles dengan krayon hijau untuk gambar gunung yang sudah hampir selesai ku kerjakan.
Entah mengapa di saat aku menggambar, aku memikirkan kejadian kemarin yang kualami disekolah, disaat aku pergi ke Perpustakaan untuk meminjam buku, seorang lelaki yang misterius menyeggolku, sehingga buku yang ku pegangpun jatuh, dia pun langsung sigap menolongku dan setelah itu diapun langsung pergi. Keesokan harinya aku tidak pernah lagi bertemu dengan lelaki tersebut, siapakah dia?
“Ha.. sudahlah, ku rasa kejadian itu tidak penting untuk ku pikirkan” Ucapku dalam hati.
     Setelah gambaranku selesai akupun langsung menemui kakakku untuk mengajaknya berperahu, ternyata dia sedang tertidur di depan televisi. Dengan sabar aku menunggunya sampai dia bangun, aku rela menunggunya sampai dia bangun, karena aku sangat antusias dan sangat ingin berperahu. Sekitar sejam aku menunggunya, diapun terbangun, tanpa basi-basi lagi aku langsung mengajaknya untuk pergi. Dia pun menyetujuinya karena tidak turun hujan, kami pun pergi, dengan bersemangay aku menaiki perahu kakekku, sampai-sampai aku hampir terjatuh karena terlalu bersemangat. Untungnya seorang lelaki melambaikan tangannya dan menolongku berdiri, yang ternyata Pamanku.
“hahahaha...!”
Semua yang ada ditempat itupun menertawaiku. Aku hanya bisa menunduk karena malu, dan kami pun pergi.
“Yeeeeyyy...” ucapku sakin senangnya.
     Perjalan kami sangat menyenangkan dan berjalan dengan sesuai keinginan, Kemudian aku terkaget karena kakakku menyiramku dengan air hujan yang dingin, syukurlah aku tidak terlalu basah kuyup, tapi di tengah-tengah perjalanan hujan langsung turun, sayangnya hujan turun saat perahu kami berada di tengah-tengah perairan, sehingga kami tidak bisa berteduh, ku kira itu sesuatu yang menyebalkan, ternyata malah menjadi sangat seru dan menyenangkan, kami pun terus bercanda gurau di atas perahu yang kami tumpagi, dan tanpa disadari perahu kami pun tambah menjauh dari rumah penduduk yang berada pada tempat itu.
“Ha..? kita ada dimana?” tanya kakakku kepada pamanku.
Aku hanya bisa kebingungan.
“A..a..aku juga tidak tahu” jawab Pamanku terbata-bata.
Jawaban Pamanku hanya menambah kebingunganku.
     Sunguh kejadian ini tidak pernah terlintas dipikiranku, tapi apa yang bisa kulakukan, aku hanya bisa termenung sambil, bermain-main air yang ada di samping perahu kami.
“Menyebalkan” Ucapku dalam hati.
Setelah lama kemudian....
“Ha..? apa itu ?” tanya kakakku.
“Itu rumah, iya itu rumah penduduk di tempat kami menaiki perahu”, yaitu tempat tinggal nenekku.
“Betul” jawabku sangat senang.
Kamipun langsung memutar perahu, dan menuju tempat di mana kami naik.
Akhirnya kami pun pulang dengan badan yang basah kuyup dan sangat kedinginan, tapi dingin tidak terasa karena pucat karena mengira perahu yang ditumpangi tersesat. Padahal sebenarnya aku masih ingin berlama-lama berperahu, tapi kejadian tadi membuat kami panik dan memutuskan untuk mencari jalan untuk segera pulang ke rumah.
“Heeemmm..” dengan suara yang kecewa.
“Kamu kenapa? Apakah kamu sudah kapok untuk berperahu, karena kejadian tadi..?” tanya pamanku yang langsung menghampiriku.
“Ha? Tidak..” jawabku dengan kanget karena pamanku bertanya seperti itu.
“Terus mengapa mukamu cemberut seperti itu ?” kembali pamanku bertanya.
“Sebenarnya ....”
“Iya sebenarnya kenapa?” kembali pamanku bertanya dengan nada ingin tahu.
“Aku masih berperahu..! jawabku dengan suara yang ingin meneteskan air mata.
“Iya, kita akan berperahu jika tahun depan kamu kesini lagi” Jawab pamanku memberi semangat.
“Iya, aku pasti akan kesini lagi” jawabku kembali.
    Setelah lama bercakap diruang tamu, nenekpun mengajak kami untuk makan siang bersama. Moment yang sangat ku tunggu dimana semua keluarga besar nenekku berkumpul di satu ruangan, yaitu ruang makan yang mungil, tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar dengan dinding yang dihiasi foto-foto keluarga besar nenekku. Disaat kami makan, tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu,
“Tok...tok..tok” nada pintu yang berbunyi begitu keras.
“Iya, tunggu sebentar” jawab nenekku dari dalam rumah.
Akupun langsung pergi membuka pintu,
“Eehhh, ternyata Ayah, Ayo masuk Yah” Panggilku.
Ayahku pun masuk ke ruang makan, kemudian nenek juga mengajak Ayah untuk makan bersama.
“Untuk apa kamu kesini...?” tanya nenek kepada Ayahku.
     Ternyata Ayah ingin mengajakku untuk Pulang, karena besok sudah kembali masuk sekolah. Sebenarnya aku ingin berlama-lama disini,
“Tapi sayangnya besok sudah mulai masuk sekolah” ucapku dengan nada lesu.
Sebelum aku pulang, nenek mengajak kami semua untuk sholat dhuhur berjamaah. Kami langsung pergi untuk mengambil air wudhu.
     Sesudah sholat akupun berdoa “Ya Allah sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disini, Ku Mohon kepadamu berikanlah Hamba kesempatan untuk kesini tahun depan, Saya senang sekali disini, tempat istirahat yang begitu damai dan tenang, Jaga nenekku agar jika tahun depan aku kembali aku masih bisa melihat senyumnya dan jaga pula semua keluarga hamba yang lainnya, Amin...!” Sambil meneteskan air mata yang tak sengaja jatuh.
    Aku, kakakku dan ayahpun bersiap-siap untuk pulang, kami pun meminta izin kepada nenek dan semua keluarga yang ada disana.
“Daaaaa....!” Ucap kami serempak.
“Aku akan kesini lagi nanti, tunggu aku yah nekk...!” Ucapku berteriak.
Nenekpun tersenyum mendengar ucapanku.
Sungguh pengalamanku kali ini sangat mengesankan dari naik perahu sampai makan bersama dirumah nenek.
Nanti jika sampai dirumah aku pasti akan menulis cerita menyenangkan ini di buku harianku.
JJJ
TERIMA KASIH

_THE END_



Tidak ada komentar:

Posting Komentar